2

“Aku berani mencintai, dan aku mencintai dengan berani”  Donny Dirganthoro dalam novenya yang berjudul “2″

 

Begitu sederhana tapi bermakna bukan? Dia mengisyaratkan bahwa kita harus berani mencintai sesuatu hal, dan berani untuk melakukan apa saja untuk hal yang kita cintai.. Cintailah Cinta.

Lebih baik kecewa karena cinta daripada tidak bisa merasakan apa yang namanya cinta ( Dondi, agustus 2011)

 

Detak Jarum Jam

tak..tak..tak..tak..tak…tak..tak..tak

Itulah sebuah suara benda yang berbunyi memecah kesunyian kamar saya. Sebuah benda yang tidak pernah lelah “berhenti berbunyi”

Dialah ….. Jam. Detak Jarum Jam….

Setiap melihat jam dan mendengar detakan, saya berandai-andai, jika saja ia bisa berbicara atau mendengar, ingin sekali saya ucapkan “teriamakasih”.. Mengapa demikian?  Ia sangatlah hebat. Ia tidak bisa berbicara, namun dia bisa “membuat”saya bergerak untuk tidur, mandi, belajar, sholat, beres-beres kamar, dan segala kegiatan lainnya.

Setiap melihat jam dan mendengar detakan, segala macam perasaan bercampur aduk pernah saya rasakan bergantian . Marah ? IYA! Marah karena mengapa saya tidak bisa menghentikan waktu disaat saya sedang senang supaya rasa senang saya bisa bertahan lama. Bahagia ? IYA ! Bahagia karena disaat sedang susah, waktu berjalan seperti biasa dan kesusahan dan kesulitan tanpa disadari atau tidak, sudah tidak saya rasakan lagi.

Setiap melihat jam dan mendengar detakan, segala macam khayalan melintas. Khayalan apa yang terjadi masa lalu, masa kini, dan apa yang ingin saya rasakan dimasa depan, pernah melintas disela-sela detakan jarum jam yang terdengar jelas. Andaikan saja ia tahu, betapa besarnya harapan saya terhadap waktu, besarnya harapan saya untuk tidak lelah melakukan banyak hal seperti waktu yang tidak pernah lelah untuk berputar, besarnya harapan untuk membahagikan orang-orang disekeliling sembari disaksikan waktu yang terus berputar menghiasi hidup, dan suatu harapan yang paling penting… harapan untuk bisa menghidupi harapan yang saya harapkan di masa kini untuk bisa bermanfaat di masa depan agar saya sukses dibidang kehidupan saya dan bisa berbuat sesuatu untuk bangsa ini..supaya kelak di masa tua nanti…. saya tidak akan marah lagi disaat melihat jam dan mendengar detakan jam dari kursi goyang yang saya duduki..tidak akan marah karena detakan jarum jam telah banyak mengingatkan saya untuk terus bergerak, beribadah, berkarya, bernafas, bersosialisasi, berolahraga…..dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa..

Seorang teman saya yang bernama Rizkyana Dipananda menulis beberapa kalimat di tumblr nya . Ini kalimatnya : Tanpa sadar, kita adalah pahlawan bagi diri kita sendiri. Kemampuan super sudah kita miliki dengan sendirinya, dan aku yakin, kemampuan yang kita miliki adalah berbeda-beda dan spesial. Hanyak kita yang punya. Tetapi yang tidak kita miliki adalah pemicu kekuatan tersebut. Maka, ciptakanlah pemicu tersebut. 
Salah satu pemicu kekuatan kita tanpa kita sadari sudah tercipta..yaitu waktu.. Dengan adanya jam yang menunjukkan waktu, bukan hal yang mustahil untuk kita para pemuda harapan Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati, Sayuti Melik, Laksamana Maeda dan para pejuang kemerdekaan lainnya untuk tunjukkan kepada siapapun bahwa kita bisa menjadi pahlawan untuk siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Lalu..yang terpenting adalah menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Saya berjanji

Teruslah berputar dan setia menjadi pelecut bagi setiap insan untuk setidaknya berpikir bahwa kita harus menikmati setiap detakan jarum jam yang berputar. Karena waktu itu berharga.. Jangan disia-siakan. Manfaatkan waktu yang ada, teruslah berkarya dan selalu bersyukur !

Jangan kecewakan detakan jam yang setia “mengingatkan” kita.. Detakan jam akan membawa kita ke sebuah jalan yang panjang yang akan kita isi dengan senyuman yang bermakna bagi semuanya..

Terimakasih…

 You must have been warned against letting the golden hours slip by; but some of them are golden only because we let them slip by.  ~James Matthew Barrie


Time is like the wind, it lifts the light and leaves the heavy.  ~Doménico Cieri Estrada

Dondi, agustus 2011.

Siapakah aku?

Siapakah aku?

Itu mungkin menurut lo semua adalah pertanyaan yang aneh. Gimana bisa seseorang bertanya siapa itu dirinya? Tunggu dulu. Sekarang gua tanya balik, emang lo bisa tau secara keseluruhan lo itu siapa sih sebenernya?

Gua hidup udah hampir 20 tahun, gua udah bukan remaja lagi, gua sudah memasuki tahap dewasa, yang sudah harus memikirkan nanti gua mau kerja apa, kapan gua ngelamar cewe yang dipilih tuhan untuk mendampingi gua di dunia, dan gimana caranya gua bisa ngasih makan orang-orang pilihan tuhan tersebut (ngasih makan anak istri bahasa simpelnya) . Dan yang terpenting adalah gimana caranya gua bisa membalas jutaan keping lebih uang 100 rupiah yang udah dikeluarkan dari hasil keringat kedua orang tua gua.. Semoga gua bisa…bisa menjadi orang yang berguna bagi semua orang, apalagi buat keluarga gua. Untuk mewujudkan itu semua yaa seseorang harus punya identitas diri!

Oke.sekarang kembali ke topik “siapakah aku?”

Gua orang yang pengen banget kenal atau sekedar TAHU banyak orang, itu bisa dibuktikan dengan jumlah kontak di bbm gua sudah menyentuh angka 600 orang! Maksud gua bukan untuk menyombongkan diri, tapi ya gua cuma pengen membuktikan kalau gua yaa tau mereka dan mereka tau gua. At least tau nama gua DONDI.. Tapi yaa itu kan cuma sekedar TAU, tapi ga KENAL SECARA MENDALAM.   Sebenernya gua gabisa munafik  dan pengen bilang selama ini gua berusaha untuk dinilai baik dimata orang, kalopun akhirnya dinilai buruk, gua pengen tau hal buruk apa yang mereka liat dari diri gua. Gua orangnya sangat menerima kritikan karena gua memang orangnya pengen terlihat baik didepan orang banyak! Ini bukan sebuah arogansi , tapi ini adalah sebuah kewajaran.. DO YOU AGREE WITH ME? Everybody has their own perception,  pals!

Untuk membuat identitas diri tuh ga gampang, sampe sekarang pun gua ngerasa belum menemukan identitas yang sejati selain identitas gua yang adalah seorang pria dari awal muncul di dunia.  Gua mau dikenal dengan orang yang seperti “A”, dan sampai kapanpun gua pengen dibilang seperti “A”. Bukan sebagai orang yang egois, melainkan lebih ke hal yang gua pertahankan mati-matian, entah itu keyakinan akan agama yang gua anut atau pula prinsip-prinsip yang ada . Hal itu sangat penting buat gua karena gua adalah pria, dan pria dikenal atau akan lebih dihargai dari kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya. Lalu gua akan menjadi kepala keluarga, imam buat istri gua dan anak-anak (insyaallah tuhan bersedia menitipkan ciptaan-Nya ke gua). Jadi sebuah identitas itu adalah sebuah harga mati buat seorang pria. Salah satu hal yang bisa membuat gua bisa menemukan jati diri selain gua membentuknya sendiri adalah dengan saran dan kritikan dari orang-orang yang mengenal gua sangat baik atau bahkan orang-orang yang baru mengenal gua. Perkataan dari mereka akan membuat gua lebih merefleksikan diri gua untuk memperkuat apa yang kuat di diri gua dan menngurangi atau bahkan menghilangkan segala hal yang buruk di dalam diri gua. Tapi ya perlu kita ingat bahwa kesempurnaan hanya milik sang Pencipta, manusia tidak ada yang sempurna.

Pengakuan…. Yak! gua butuh dipuji oranglain, gua butuh akan hal itu.. Sebagai contoh, di kampus lagi akan diadakan banyak acara nih. Lalu gua dipercaya sebagai PJ futsal Psygames dan WAPJ Futsal piastro 2011. Oia tidak lupa gua menjadi bagian dari FC08 sebagai kepala divisi turnamen. Kalau boleh jujur gua seneng banget terlibat di kedua acara itu yang notabene jabatan yang gua pegang itu dipilih langsung oleh ketua pelaksana. Namun……… gua ngerasa ada yang kurang nih hehe. Gua butuh pengakuan dari mereka sebenarnya, kenapa harus gua yang kalian pilih ? Kenapa gak yang lain? Cowok di kampus kan ga cuma gua, yang lebih pinter juga lebih banyak, yang lebih segalanya juga banyak. Gua curiga nih, apa gua opsi terakhir? Apa karena gua lebih sering terlihat di kampus yang padahal cuma nongkrong-nongkrong doang di Selasar jadinya gua dipilih? ahaha gua harus mengakui gua pengen ada pengakuan atas pilihan yang kalian buat.. Pengakuan itu bukan untuk disombongkan, melainkan menjadi rasa syukur karena masih ada yang memilih gua atau percaya sama gua. :D

SIAPAKAH AKU?

Siapapun aku menurut kalian , gua akan berusaha untuk menjadi diri gua sendiri dan akan berusaha untuk menjadi orang yang berguna buat semua, apalagi untuk keluarga gua. Bismillah.. Tebar senyum saudaraku sekalian! karena hanya dengan tersenyum, itu tanda kita sudah bersyukur atas nikmat-Nya :)

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Small Things, Big Impacts

Assalamualaikum wr.wb.

Beberapa jam sebelum nge-post ini, gua abis buka blognya si Sasky, kakak dancer papan atas hehe.  Judul post gua yang ini “diadopsi” dari salah satu  kalimat di post dia yang terakhir, saya minta izin ya sas menggunakan kata-kata itu :)

Manusia dilahirkan dengan  sifat yang tidak selalu sama dan tuhan menciptakan perbedaan di setiap makhluknya dan di setiap elemen kehidupan supaya manusia belajar untuk memilih. Memilih untuk memikirkan segala hal yang sepele atau hanya selalu yang bersifat besar dan menyepelekan hal yang kecil adalah pilihan setiap orang. Namun perlu diingat lagi apakah kita memilih untuk mendapatkan yang terbaik atau sekadar  memilih hal yang efeknya tidak terlalu besar ? Hal “Memilih” dan hal yang gua angkat di judul blog ini saling berkaitan erat. Silakan menikmati “sajian” yang saya berikan.

Lanjut lagi yuk namu sedikit melenceng ke hal yang mungkin tidak terlalu familiar yaa. Fyi, gua adalah seorang pelatih futsal yang mempunyai misi tidak hanya membawa tim gua juara sebanyak-banyaknya. Namun gua juga mau mengajarkan hal-hal “kecil” yang mungkin gua ga berharap akan dikenang saat ini juga, namun gua berharap apa yang gua terapkan sekarang walaupun ” kecil ” akan berpengaruh terhadap kehidupan anak-anak didik gua dan mereka bergumam ” Dondi dulu ngajarin hal “kecil” ini dan berefek besar dalam kehidupan gua sekarang ini. Mungkin sedikit arogan ya (tp menurut gua sih wajar) haha. Hal itu adalah……disiplin waktu. Di sistem kepelatihan gua, gua selalu menekankan pentingnya tepat waktu dalam hal latihan, mengumpulkan hal-hal administrasi, dan hal lainnya. Ketika latihan, sudah disetujui dari awal kalau datang telat akan dapat hukuman tersendiri. Tujuan gua itu ingin membentuk adik-adik gua untuk menjadi pribadi yang menghargai waktu. Gua memang bukan orang yang SELALU tepat waktu di setiap saat, tapi setidaknya gua punya USAHA untuk tidak datang terlambat dan mencontohkan yang baik kepada adik-adik gua yaitu adik-adik di tim Bulungan Football Club :) i love you, pal!

Next, Gua punya pengalaman sama pacar gua dulu dalam hal Small Things, Big Impacts.. Gua mungkin bukan orang yang teliti dalam segala hal yang berhubungan sama pacar gua dulu, pacar gua sempet kesel karena gua ga sadar kalo dia abis potong rambut.. Gua sedikit heran…harus ya gua merhatiin setiap jengkal tubuhnya dia?  Apa penting gua selalu ngukur panjang rambutnya dia setiap minggu untuk membandingkan atau sekedar bilang ” cie yang potong rambut” sebelum dia bilang dia baru aja potong rambut ?

Tapi suatu hari pun gua sadar, hal kecil akan berefek besar. Sebagai contoh, ingatan gua masih bagus untuk sekedar mengingat jamberapa waktu sholat, dan gua pun bertanya-tanya kenapa cewek gua jarang banget bilang” udah sholat?, udah makan? atau , sholat gih! ” Itu sebuah kalimat yang mungkin gaterlalu penting untuk diucapkan, tapi gua ngerasa kata-kata itu akan selalu enak untuk dilihat di layar hape atau didengungkan mulutnya.. Cuma sekedar memberi perhatian terhadap hal kecil yang memang biasa atau pasti dilakukan, itu berefek banget buat perasaan yang dirasain. Dan terjawab lah kenapa dulu si pacar sebel kalo gua gasadar kalo dia abis potongrambut atau sekedar punya baju baru yang dipake kalo jalan sama gua tapi gua ga sadar kalo itu baju baru.. YAA ITU DULU. dan MAAF YA.. :)

Satu lagi, kata yang mungkin tidak sepanjang gerbong kereta namun efeknya bisa melebihi panjangnya gerbong kereta #lebay.com , yaitu kata MAAF.. Boss! Kata maaf tuh lebih bermakna dari hal apapun berupa barang kalau lagi berantem.. 4 huruf tapi maknanya lebih dari 4 huruf kalo udah kena di hati.. Walaupun ada yang punya pemikiran ” kalo gasalah, ngapain minta maaf” , alangkah baiknya jika pemikirian itu sedikit disandingkan dengan pemikiran “Small Things, Big Impacts ” untuk menciptakan sebuah hal yang menyenangkan..

Semua orang tahu bahwa cuma doraemon yang punya mesin waktu, tapi sayangnya, doraemon ga menyebutkan merek mesinnya itu sehingga seorang Steve Jobs ( pembuat Apple, Mac, Ipod, dll) pun gabisa memproduksi itu (#mulaigila). Oleh karena itu, manfaatkan waktu yang ada bersama orang-orang yang kalian cintai karena waktu gabisa diulang dan  mulailah berpikir untuk melakukan hal yang kecil untuk sebuah perubahan yang besar..  Satu lagi, guru gua pernah bilang, semua orang jatuh karena batu kecil, bukan karena batu besar.. Selalu bersyukur terhadap sang Pencipta untuk segala nikmat dan cobaan yang telah diberikan-Nya.

wassalamualaikum wr.wb

Semuanya ada di Bulungan

Bulungan…

Bulungan itu sangat identik dengan sekolah 70. Di 70 pun, saking terkenalnya nama bulungan, beberapa nama ekskul di 70 pun mengandung nama Bulungan. BFC (Bulungan Football Club), BAC (Bulungan Art Club), BBC ( Bulungan Boxing Club) dan lain-lainnya. Tradisi senioritas di 70 ternyata ada dampak baiknya. Memisahkan tempat tongkrongan anak kelas satu, dua, dan tiga ternyata membuat gua dan teman-teman lainnya secara tidak langsung “dipaksa” mencintai Bulungan itu sendiri.

Selama tiga tahun “hidup” di Bulungan yang setiap tahunnya di tempat berbeda (utas: Mendawai, Aud : GOR bulungan, Agit : Lamandau), membuat gua sangat cinta banget sama Bulungan dengan apa yang ada disana. Dulu saat masih berseragam, orangtua gua mungkin bingung kenapa gua betah banget nongkrong. Ya namanya juga SMA, pasti bawaanya main, apalagi di 70, nongkrong di tongkrongan sama seperti halnya mempertahankan benteng (sedikit lebay, tapi ya itu kerasnya 70 dengan segala isinya, salah satunya TUBIR).

Ya itu jaman sekolah lah ya TUBIR. Sekarang gua udah alumni, dan alesan untuk nongkrong di Bulungan pun bukan untuk tubir. Tapi entah kenapa ya, bagi gua, Bulungan akan selalu dipikiran gua sebagai tempat yang harus didatengin seenggaknya seminggu sekali. Di Bulungan, banyak hal mulai dari yang gapenting sampe yang sangat penting tanpa disadari pasti dibicarain. Bayangin aja, kalo udah serius, Bulungan bisa jadi adu debat, entah itu debat bola, obrolan jenis-jenis mainan waktu kecil, kartun-kartun, bokep yang ga mungkin terlewatkan untuk dibahas dan bahkan hal tergila yang pernah gua dan temen-temen gua yang lainnya adalah ngomongin kebijakan pemerintah haha.

Ya tapi itulah Bulungan, yang kalo gua ke Bulungan cuma ketemu para satpam, tukang nasi goreng yang biasa dipanggil Kemeng, tukang pecel ayam yang dipanggil Parjos, tukang sate namanya slamet yang sering gua ajak main bola, tukang warung minuman dan rokok yang didagangkan oleh Dayat, Nano, Edi secara bergantian dan sebuah halte diseberang pintu gerbang 70 yang melindungi gua dan yang lainnya dari terjangan air dikala hujan. Mereka pun tidak hanya sebagai penjual, namun bisa sebagai temen. Tingkah laku mereka yang lucu menjadi nilai plus Bulungan. Warga Bulungan memang selalu ramah dengan segala kebodohannya tidak lupa gua ingat. Selain hal tersebut, halte  itu kadang bisa jadi tempat pacaran, tempat judi, tempat makan, dengerin lagu dan hal-hal lainnya yang memang sebenernya untuk senang-senang semata. Halte Bulungan dan sekitarnya tempat gua biasanya nongkrong sekarang ini yang cuma ditemani meja dan bangku untuk main kartu, makan dan minum memang tidak ber-AC, bergenteng rapi berwarna warni dan tidak berkeramik seperti layaknya PIM, Sency, PS dan mall-mall lainnya. Tapi yang perlu gua syukurin dan membuat gua betah ke Bulungan yaitu, Bulungan beserta isinya dan temen-temen yang suka nongkrong disana membuat semuanya menjadi tawa. Tawa yang mungkin susah gua dapetin di tempat lain. Tawa diantara peliknya masalah pribadi yang mendera. Tawa dibalik sebuah kenyataan bahwa hidup itu cuma sekali dan jangan pernah disia-siakan. Bulungan akan selalu mempunyai tempat tersendiri di hati. Rumah kita…….Bulungan

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita



Senyuman itu ada di BFC

BFC adalah nama sebuah tim futsal dan sepakbola SMAN 70 yang sudah ada sejak 1985. BFC  singkatan dari Bulungan Football Club. Saat gua dulu masih berseragam SMA, dari kelas 1 sampai kelas 3 gua aktif di  ekskul ini dan gua sering banget ikut banyak turnamen dan Alhamdulillah dengan kerjakeras dan kebersamaan kami, gua dan rekan tim lainnya bisa mencicipi banyak pertandingan dan gelar juara :D

Selepas SMA, gua melanjutkan kuliah, dan tepatnya Juni 2010, gua diminta untuk mengisi kursi kepelatihan. Awalnya gua sempet ragu karena gua gapunya pengalaman apapun sebagai pelatih dan gua juga takut waktu kuliah gua terganggu. Akhirnya setelah mendapat jadwal kuliah semester itu yang ternyata waktu latihan dan jam kuliah tidak bentrok, gua memutuskan untuk membantu junior gua di BFC dan menerima tawaran untuk melatih. Gua sangat excited dengan pekerjaan baru gua ini. Gua berusaha semaksimal mungkin menularkan dan membagi pengalaman gua selama 3 tahun di BFC dulu sebagai pemain yang sempat dilatih 3 orang berbeda dengan tipe cara melatih yang berbeda-beda pula. Gua sangat bangga dengan kedudukan gua sekarang. Seorang PELATIH !

Awal-awal ngelatih, gua sangat memikirkan cara pendekatan dan komunikasi yang bener ke anak-anak didik gua. Karena ya, dengan komunikasi yang lancar dan harmonis, sebuah tim akan berjalan dengan bagus dan insyaallah akan meraih banyak gelar. Selain itu, cara ngelatih, materi yang akan gua beri di setiap latihan, penumbuhan mental juara, kesolidan tim juga menjadi pekerjaan rumah buat gua. Itulah fokus-fokus gua diawal kepelatihan gua. Karena gua bisa berAlhamdulilah, jarak umur gua dengan anak didik gua ga terlalu jauh, cuma 2-3 tahun, hal itu membuat cara pendekatan gua dan komunikasi ke anak-anak  ga terlalu susah. Gua selain sebagai pelatih, juga bisa sebagai teman berbagi cerita.

for your info ya. Di BFC, gaji gua cuma 50 RIBU per……..BULAN! Kalo mau main itung-itungan, untuk membayar bensin dan minum aja masih kurang, gimana dengan membayar setiap keringet gua yang bercucuran, pemikiran gua gimana caranya bisa buat tim juara, pengorbanan waktu gua yang kadang-kadang cabut kelas demi datang ke latihan dan pertandingan?  UANG 50 RIBU SANGAT TIDAK SEBANDING masbro! lebih enak jadi tukang parkir kali kalo diliat dari duit yang didapet.  Tapi disini gua ga ngejar materi! Selama 3 tahun sebagai pemain dan setaun sebagai wakil ketua BFC, banyak hal yang gua dapet, mulai dari senyuman kemenangan, tangisan kekalahan, kepuasan dapet gelar juara, hasil kerjakeras sebuah tim yang membuahkan hasil, dan yang paling penting dan akan selalu gua ingat adalah, guabisa dengan mudah melihat senyuman indah dibalik kelelahan. Senyuman dibalik kelelahan adalah senyuman yang paling indah gua rasa. Senyuman itu mengalahkan senyuman Luna Maya kayaknya. Senyuman yang keluar dari sebuah rasa lelah menandakan kalo kita bermain dengan hati! Dengan hati, selelah apapun elo, lo gakan pernah merasa rugi kalo lo lebih banyak mengeluarkan uang daripada mendapatkan uang di dalam berkegiatan. Karena dibalik materi, ada hal lain yang lebih berharga, yaitu pengalaman. Pengalaman yang gua dapet di BFC lebih berharga dan gabisa dibandingkan uang selembar senilai 50.000. Senyuman dari setiap anak didik gua ngebuat disetiap kelelahan yang mereka rasakan, menunjukkan kalo mereka semangat dan berani bermain dengan hati. Prestasi terbaik gua mendapat juara dua. Sebelum gua meninggalkan jabatan gua sebagai pelatih, gua harus membawa tim ini jadi juara 1, gacuma sekali, tapi lebih dari sekali!

BFC BFC BFC! MAJU TERUS

ITS ALL ABOUT PASSION, COMMITMENT, HAPPINESS AND LOVE


Keteguhan Prinsip Prio

” Prio Perkoso, pria muda yang sangat suka memakai Blangkon. Kemanapun ia pergi, Blankon adalah barang wajib yang harus ia pakai.  Ia bekerja di sebuah perusahaan dan ia mempunyai bos yang bernama Ibu Mili. Bu Mili berwatak sangat tegas dan disiplin. Sikapnya itu membuat para karyawan merasa tidak nyaman. Prio pun menjadi korban ketegasan bu Mili. Bu Mili meminta Prio untuk melepaskan blankon yang ia pakai selama jam kerja, jika tidak, Prio tidak boleh bekerja di ruangan itu. Keesokan harinya, Prio pun lebih memilih untuk bekerja di luar ruangan dibandingkan harus melepaskan blankon yang sangat ia cintai. Sontak saja hal itu membuat Ibu Mili geram dan memberi peringatan terhadap Prio. Sesampainya dirumah, Prio merasa tidak terima jika harus melepas blankonnya. Oleh karena itu, keesokan harinya, ia datang ke ruangan Bu Mili dan memberikan surat pengunduran diri. Hal itu membuat Bu Mili pun kaget dan menanyakan alasannya. Prio menjawab kalau ia tidak bisa melepaskan blankon yang ia pakai, karena menurutnya, blankon tidak hanya hiasan penutup kepala, tetapi sudah menjadi jati diri dia sendiri, dan dia bangga memakai warisan budaya daerahnya.”

Itu adalah sekilas kisah yang ada di sebuah film yang saya lupa judulnya hehe. Lupakan sejenak tentang judul, ada yang lebih penting dari sekedar judul jika melirik dari potongan kisah itu.

Sangat aneh memang, bayangkan saja, Prio yang cuma ditegur karena memakai blankon disaat bekerja dan diperintahkan untuk melepas blankon malah memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Padahal disisi lain, dia mempunyai 5 orang adik, dan Prio bertekad untuk membuat kelima adiknya itu bisa sekolah dengan tenang. Ya memang benar, Prio banting tulang mencari pekerjaan lagi untuk membiayai kelima adiknya, menjadi tukang ojek, ngamen sinden, dll. Sampai disini mungkin kita bisa menilai bahwa prinsip Prio tentang blankon akan membawa dia ke jurang kesulitan.

Tunggu dulu, cerita belum selesai. Masalah laporan keuangan dan rasa bersalah yang dirasakan bos membuat sang bos pun mendatangi rumah Prio dan membujuknya untuk kembali bekerja, si bos pun merelakan blankon untuk tetap ada di kepalanya si Prio saat ia bekerja. Namun yang terjadi adalah, si Prio tetap keukeuh tidak ingin kembali kesana karena prinsipnya dari awal yang tidak ingin kembali terhadap apa yang ia pernah tinggalkan membuat ia menolak kembali kerja di kantornya yang lalu. Sangat aneh memang melihat apa yang ada dipikiran Prio saat itu. Disaat ia membutuhkan uang untuk menyekolahkan kelima adiknya, disaat ada kesempatan mendapatkan uang ia malah menolaknya. Sang bos pun kesal dan Prio kembali menekuni pekerjaan lamanya bersama kelima adiknya menjadi pengamen sinden. Malam itu Prio dan adiknya “kembali” ke jalanan dan menari sinden sambil bernyanyi. Di saat sedang mengamen, ia memergoki teman kerjanya mencuri laptop sang bos yang ada di dalam mobil. Sekejap sang pemuda yang bernama Prio pun pergi mengejar rekan kerjanya ( yang diduga mencuri laptop karena takut si bos mengetahui bahwa ia telah memanipulasi laporan keuangan dan telah mengambil uang perusahaan). Akhirnya si bos pun terselamatkan oleh ulah jahat si Dika (rekan kerja Prio yang kedapatan korupsi di perusahaan) karena si Prio berhasil mengejar dan merebut laptop yang berisikan tentang laporan keuangan. Sekarang kita berandi-andai, apa yang akan terjadi  jika disaat si Bos mendatangi rumah Prio untuk menawari Prio bekerja lagi diperusahaannya dan Prio langsung menyetujui ajakan sang bos? Mungkin Prio tidak akan mengamen sinden lagi dan mungkin tidak akan bisa melihat rekan kerjanya mencuri laptop si bos dari mobil si Bu Mili yang berarti laporan keuangan pun lenyap dan perusahaan bisa saja bangkrut dikarenakan hal itu.

Peristiwa itu membuat sang bos merasa berhutang budi terhadap Prio dan mengajak kerjasama Prio untuk mendirikan usaha blankon. Blankon buatan perusaahan yang dibangun Bu Mili dan Prio pun diminati dikotanya dan mulai dijual diluar Pulau Jawa. Sekarang Prio menjadi pengusaha sukses dengan usaha blankonnya dia. Prinsip dia akan kedua hal diatas (blankon dan keputusannya untuk tidak pernah kembali terhadap apa yang telah ia tinggalkan) membawanya dia ke jalan kesuksesan. Dari cerita di atas, saya mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga prinsip yang kita yakini, walaupun tidak logis bagi orang lain yang mengetahuinya, insyallah selama kita meyakini dan tetap konsisten terhadap pendirian kita, segala hal kebaikan dengan sendirinya akan datang menghampiri diri kita. Percayalah

 

The Principle is Competing Again Yourself. It’s about self-improvement, about being better than you were the day before    - Steve Young

Gayus Sang Ilusionis

Gayus tambunan. Pria ini sekejap tercengang-cengang membuat perhatian rakyat Indonesia atas apa yang dia perbuat. Medali Emas Olimpiadekah yang ia dapat? Pemecahan Rekor Muri? Ataukah penemu alat canggih? Oh ternyata bukan, dia tidak lain adalah seorang yang mampu dengan mudah menyulap pajak yang seharusnya untuk pembangunan negara menjadi pembangunan rumahnya yang mewah dan pembelian bermacam-macam barang-barang mewah dan mahal lainnya. Mungkin jika negara ini bukan negara hukum (yang sebenarnya hukum di negara inipun sulit menemukan apa yang namanya keadilan), banyak yang ingin memberi “pelajaran” kepadanya atas perbuatan yang “memakan” uang rakyat. Drama seorang Gayus bisa dengan mudah “menggeser” kasus Bank Century dan pembunuhan yang melibatkan mantan ketua KPK, Antasari Azhar dalam deretan kasus terdahsyat yang ada di Indonesia akhir-akhir ini. Selain itu, aksinya pergi ke Bali disaat masih status tahanan dengan memakai rambut palsu juga sontak membuat decak kagum saya. Bagaimana bisa itu terjadi? Sungguh aneh. Gayus sang ilusionis mampu menghipnotis perhatian masyarakat dengan aksinya.

Yak, Hasil penyelidikan polisi dan aparat yang berwenang telah menetapkan hukuman terhadap Gayus Tambunan. 7 tahun dengan denda 300 juta.  Pertanyaan yang saya punya adalah… Apakah ini sebanding dengan perbuatannya? Apakah dengan dipenjara 7 tahun bisa mengembalikan semua uang yang dikoruspi? yang terpenting adalah, apakah kasus korupsi oleh Gayus ini akan membuat oranglain untuk tidak berbuat hal yang sama? Ah ternyata Gayus berulah lagi. Pengakuannya sesaat setelah persidangan dengan menyebut tokoh-tokoh penting lainnya seperti Abudrizal Bakrie membuat orang seakan-akan tidak ingin berpaling dari Gayus. Entah apa yang ingin Gayus lakukan. Tapi saya yakin, Gayus tidak sendirian dalam aksi korupsinya. Gayus hanya “kurang beruntung” karena cuma dia yang ketahuan melakukan hal itu. Andai saja Gayus berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, siapa saja yang ada dibalik ini semua, mungkin drama Gayus akan lebih panjang lagi ceritanya.

Baiklah, dibalik sebuah peristiwa pasti ada sesuatu hal positif yang bisa dipetik. Mungkin bukan satu, tapi banyak hal. Tertangkapnya Gayus Tambunan setidaknya membuktikan bahwa pemberantasan korupsi di negara ini sedang gencar-gencarnya dilakukan. Mungkin ada yang bilang, uang yang Gayus “ambil” disaat ia masih bekerja di kantor pajak belum seberapa dibandingkan apa yang orang lain “ambil”. Berapapun jumlahnya, saya cuma berharap, korupsi di negara ini akan terhapus. Betapa indahnya jika negara ini bisa bersih dari apa yang namanya korupsi. Kuatkanlah iman kita supaya terhindar dari perbuatan jahat…

Sepakbola sebagai pemersatu bangsa

Bisakah kita selalu berkaca dan berpedoman kepada sila ketiga pancasila sampai detik ini? Yaitu Persatuan Indonesia. Ya, mungkin sangat sedih jika melihat apa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Persatuan adalah sebuah kata yang mahal! Bentrokan antar sesama warga INDONESIA masih sering terjadi. Bulan April 2010, di Priuk terjadi perselisihan antara warga dengan aparat keamanan masalah makam mbah priuk. Bulan September, peristiwa Blowfish juga mengagetkan ratusan jutaa penduduk Indonesia. Ratusan orang terluka dan bahkan ada yang tewas ditempat itu karena keganasan semua pihak yang ada disana. Siapa yang harus disalahkan? Siapa yang mau bertanggung jawab? Siapa! Siapa!?? Apapun alasan terjadinya bentrokan itu, harusnya kita malu! Malu dengan ucapan “Persatuan Indonesia!”

Persatuan Indonesia…

Jika dilihat dari peristiwa diatas, kata persatuan masih sangat jauh untuk digapai. Namun, tidak ada yang tidak mungkin untuk digapai. Aneh memang, tapi menurut saya, kita harus berterimakasih terhadap apa yang namanya BOLA! Selama bulan Desember, mustahil ratusan juta penduduk Indonesia tidak merasakan euforia terhadap TimNas Indonesia yang berjuang mati-matian untuk menjadi juara. Seluruh lapisan masyarakat turut berpartisipasi mendukung timnas Indonesia hingga partai final. Tuhan berkata lain, juara pun direbut oleh Malaysia dan Indonesia harus puas dengan menjadi peringkat kedua.

Namun, ada yang lebih penting dari sebuah piala AFF. Hal itu adalah persatuan! Ya! Sepakbola secara tidak langsung mempersatukan rakyat Indonesia. Di liga Indonesia, banyak klub dengan warna kebanggaan masing-masing. Persija dengan warna oranye, Arema dengan warna biru, dan Persebaya dengan warna hijau.  Namun, di bulan Desember tepatnya, semua warna itu “melebur” menjadi dua warna, warna kebanggaan Indonesia, MERAH PUTIH. Saya sempat datang menyaksikan langsung dari Gelora Bung Karno dan merasakan apa yang namanya PERSATUAN. Hampir seluruh penonton yang memadati stadion yang berkapasitas 90.000 ribu penonton memakai warna kebanggan Indonesia, yaitu Merah. Teriakan, tangisan, tawa, canda dan pilu mewarnai penonton yang datang tidak hanya dari Jakarta. Pendukung Arema, persebaya,persipura, dan bahka pendukung Persib (yang faktanya adalah Persib adalah musuh dari Persija, jadi mustahil pendukung Persib bisa mendukung timnya jika Persib bertanding melawan Persija di Jakarta) bisa datang dan menikmati keindahan sepakbola dan saling bersatu dengan masyarakat Indonesia lainya untuk mendukung timnas. Bukan hanya itu saja, keindahan sepakbola juga membuat perbedaan suku, agama dan ras tidak menghalangi mereka untuk tetap mendukung Markus Horison dll.

Ya itulah Bola, dia tidak perlu sebuah microfon untuk mengingatkan ratusan juta masyarakat Indonesia untuk bersatu, namun dengan gulirannya, Bola bisa menjadi alternatif dan bahkan jadi cara utama untuk kembali merasakan apa itu yang namanya PERSATUAN.

THE BEAUTY OF FOOTBALL